Pilih Laman

KOMPAS.com – Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menurut catatan Japan Educational Enviroment Forum (JEEF) bekerja sama dengan pengelola TNGHS, dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi tengah menghadapi persoalan penurunan kualitas hutan. Balai TNGHS sendiri mengatakan degradasi kawasan seluas 113.357 hektare itu berupa fragmentasi dan deforestasi hingga 19,4 persen atau setara dengan 22.000 hektare.

Fragmentasi adalah berubahnya hutan asli dari struktur tegakannya atau pohon kayu menjadi hutan sekunder, hutan produksi, dan hutan tanaman. Sementara, deforestasi adalah perubahan hutan menjadi semak belukar dan padang ilalang.

Kini, luasan deforestasi mencapai 8.323,5 hektare. Lalu, TNGHS mengalami laju kerusakan hutan rata-rata 1,3 persen per tahun. Yang menjadi perhatian, dalam catatan yang disampaikan kemarin, titik-titik kerusakan hutan berada di perbatasan TNGHS dengan lahan permukiman dan pertanian milik masyarakat.

Berangkat dari kenyataan itu, sebagaimana disampaikan Presiden Direktur PT Amerta Otsuka Prayugo Gunawan, pihaknya mencanangkan penanaman 25.000 pohon di area terdegradasi TNGHS seluas 40.000 hektare. Menurut Prayugo, pilihan pun jatuh pada tiga jenis pohon yang memang terbilang cocok dengan kualitas tanah, kontur, dan cuaca di TNGHS. Ketiga jenis pohon itu adalah rasamala (Altingia excelsa noronha), puspa (schima wallichii), dan aren (Arenga pinnata). Dalam kesempatan penanaman itu, hadir Kepala Balai TNGHS Agus Priambudi dan Bupati Sukabumi Sukmawijaya.

Balai TNGHS menyatakan kalau rasamala dan puspa merupakan tanaman pohon asli setempat. Kedua jenis pohon ini ditanam di dalam kawasan. Sementara, aren ditanam di batas kawasan TNGHS dengan permukiman dan pertanian penduduk. Aren adalah pohon produktif yang bisa dimanfaatkan hasilnya oleh masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, Prayugo mengatakan program penanaman pohon tersebut merupakan program jangka panjang lima tahun ke depan. Program ini dimulai pada 19 Juni 2012 dengan tajuk Satu Hati Peduli Lingkungan.

Primata Beracun Baru Ditemukan di Kalimantan
Dinosaurus Tertua Ditemukan